NURFITRIA'S SITE: DRAMATURGI

Senin, 23 Januari 2012

DRAMATURGI

Keahlian dan teknik penyusunan karya dramatik
H.Wahyu Sulaiman Rendra (WS Rendra)
mengatakan bahwa teknik bermain peran (akting) merupakan unsur paling penting dalam seni drama bagi seorang aktor alam atau bukan. Aktor mengetahui seluk beluk teknik bermain, meskipun cara mereka mendapatkan teknik itu berbeda.
Keharusan mengetahui seluk-beluk tentang teknik bermain menjadi konsekuensinya, karena seorang aktor tanpa adanya pengetahuan drama, miskinlah keaktorannya.
Tujuan dari mengetahui pengetahuan teknik bermain adalah setidaknya pemain (aktor) akan bermain secara baik. Yg lebih penting lagi adalah aktor harus benar-benar mampu menghayati pemeranan yg diserahkan padanya oleh sutradara.
Dengan begitu, sekarang kita sepakati bahwa seorang aktor haruslah memiliki pengetahuan akan teknik main drama "Dramaturgi", yaitu suatu ajaran tentang masalah hukum dan konvensi itu sendiri. Aktor akan lemah untuk melaksanakan ekspresinya diatas panggung, sehingga dapat dikatakan, ketidakmampuan aktor diatas panggung dikarenakan kurangnya pengetahuan akan dramaturgi. Saya kira memang itu salah satu penyebab yg vital
Dramaturgi yg dimaksudkan adalah ketentuan yg berlaku dalam bermain drama secara konvensional. Maka, drama konvensional berjalan sesuai dengan teknik, tuntutan hukum drama. Misalnya saja pemunculan motivasi dan perwatakan aktor di dalam pementasan yg begitu serius tergarap, alurnya terbina, menggoda penonton untuk bertanya-tanya kelanjutan cerita sebagai akibat yg sudah ada atau yg sedang terjadi.
Pembinaan Alur perlu adanya kisah awal yg berkembang (development) menuju konflik-konflik. Sehingga bisa menguasai perhatian dan minat. Kesimpulannya, konflik manusia merupakan sumber pokok drama. Hal ini sesuai dengan pendapat Brander Mathews "konflik drama adalah sumber utama drama, menyuguhkan kualitas manusia, situasi perhatian, ketegangan (exciting) bagi pendengar/penonton."
Bahkan Ferdinand Brunetiere mengembangkan konsep dramaturgi tersebut menjadi hukum drama yg berpokok pada : Pertama, lakon harus menghidupkan pernyataan kehendak manusia menghadapi dua kekuatan yg saling beroposisi. Secara teknik tersebut "kisah dari protagonis yg menginginkan sesuatu, dari Antagonis yg menentang." Pengaktualan konflik itu, nampak jelas pada naskah-naskah drama di Indonesia maupun dunia. Pembinaan alur misalnya ada dalam perampok (WS Rendra), mega-mega (Arifin C. Nur), opera kecoa (N. Riantiarno), orang-orang bernyanyi, bila malam bertambah malam (Putu Wijaya). Untuk drama dunia, Kematian seorang saudagar (Arthur Miller), nona Julia dan para penghutang (August Strinberg), camar, paman Vanya (anton Chekov), candida, man dan superman (G. Bernard Shaw), Dokter gadungan, Si Bakhil (Moliere).
Sehingga sangatlah penting dalam sebuah drama jika konflik dibangun dalam menghadapi dua kekuatan yg saling beroposisi. Yakni kekautan yg menginginkan kebenaran, pada sisi lain justru menentang.
Untuk mencapai pengembangan konflik yg dibangun, tentunya seorang pemain drama, haruslah melakukan proses latihan rutin, memahami seni peran itu sendiri, hukum-hukum drama, masalah pemain dan sejarah drama, komposisi pentas, istilah akting (motivasi, over-akting, gesture, ekspresi, dll)
Jika seorang aktor mampu membawakan pemeranannya secara detil, itulah yg dinamakan penguasa teknik. Demikian ujar Usmar Ismail. Kemampuan dan keberhasilan inilah yg dicita-citakan setiap aktor sebagai harapan diatas panggung. Namun, akan mendapat'balasan' atau 'pukulan' jika kebalikannya.
Dalam buku 'the first Six Lesson' Richard Bolelavski menulis ada enam unsur seorang mampu berperan di atas panggung, yakni :

1.Konsentrasi
Adanya penguasaan diri akan pemusatan kekuatan rohani, pikiran dan emosi

2.Ingatan Emosi
Proses mengulang segala peristiwa masa lalu, kejadian yg terlewat. Pengalaman pribadi itu dihadirkan untuk menunjang ransangan daya cipta.

3.Pembangunan Watak
Pembinaan emosi menuju klimaks untuk mengungkapkan susasana dramatis

4.Laku Dramatik
Diharapkan aktor dapat menumpahkan segenap kemampuannya.

5.Observasi atau pengamatan
Dapat dikatakan bhwa yg ada disekeliling kehidupan ini adalah suatu objek yg perlu diamati.

6.Irama
Adanya keteraturan yg dapat diukur oleh perubahan segala macam unsur yg terkandung dalam seni peran. Perubahan-perubahan itu dapat memberikan ransangan estetik.

Akhirnya dapat disimpulkan, bahwa dramaturgi sangat penting sebagai upaya mematangkan wawasan, inteletualitas, dan mematangkan emosi sebagai bekal di atas panggung.


(sumber:Shobier Poer Dosen Sekaligus Penyair buletin teater acting)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar